Pola Asuh Anak Manja
Anak, adalah buah hati dambaan hampir setiap pasangan. Kehadirannya
memberikan makna dan nuansa tersendiri dalam kehidupan berumah tangga.
Dapat memberikan motivasi kepada setiap pasangan untuk lebih bersemangat
dalam membangun dan memperkuat ikatan rumah tangga.
Terkadang, sepasang suami-istri yang telah cukup lama berumah tangga,
menanti-nanti kehadiran momongan yang mungkin belum dianugerahkan oleh
Tuhan kepada mereka. Dalam menjalani harmoni bahtera rumah tangganya,
mungkin terasa hampa bahkan hambar. Karenanya, tidaklah sedikit pasangan
yang menempuh cara untuk menjawabnya. Mulai dari menjadi Orangtua Asuh
atau yang lebih dikenal Adopsi Anak Angkat, hingga proses bayi tabung
dan sebagainya.
Setelah momongan
hadir, maka kewajiban orangtua lah untuk mengurus, memperhatikan dan
memenuhi segala keperluan juga mendidiknya.
Dalam mendidik anak, sangatlah perlu kiranya orangtua untuk bersikap
arif. Mempelajari potensi yang dimiliki anak, memantau perkembangan
hingga memantau lingkungan sekitar dimana anak tumbuh dan berkembang.
Baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik.
(continued)
Saturday, July 21, 2012
Wednesday, July 18, 2012
Tengkulak
Para tengkulak tidak pernah menanam kebaikan
apa pun terhadap petani. Sistem ijon bukan transaksi alamiah dan wajar,
kecuali merupakan sistem perampasan hak sebuah kelompok oleh kelompok
yang memiliki kekuatan pasar, pengendali pasar, dan memiliki capital
yang cukup untuk menarik keuntungan dengan cara merampas masa depan para
petani. Praksis, realitas ini bertahan sejak roda-roda feodalisme,
pengambilan upeti, dilakukan oleh para pangreh praja di era
kolonialisme. Petani tidak bisa berbuat apa, mereka menanam padi di awal
musim, namun para tengkulak telah membeli masa depan bulir-bulir padi
mereka , pembeliannya lebih murah dari harga padi ketika diambil di
musim panen.
Dengan kata lain, para tengkulak telah menjadi penikmat kelejatan dunia tanpa mereka harus menanam sebutir pun biji padi.
Apakah sejarah hanya terhenti di persimpangan feodalisme? Pergumulan antara para pemilik modal, pemilik tanah, dan para buruh tani. Dan hanya berlaku di era colonial? Sama sekali tidak. Waktu rupanya lebih kuat dari kehidupan manusia sendiri. Sistem ini terus digulirkan, hingga menyentuh ranah kehidupan manusia-manusia modern. Akar budaya dan sosial masyarakat agraris memang telah tercerabut sedikit demi sedikit dari kehidupan ini, namun bukan berarti sistem pertengkulakaan pun berbanding lurus, sama mengecilnya dengan budaya agraris tadi. Mereka telah menjelma menjadi para tengkulak modern. Menjadi tuan tanah-tuan tanah baru, feodalisme berwajah baru pun muncul.
Tengkulak modern adalah para raksasa kapitalis pemilik modal. Entah berapa ribu hektar tanah dimiliki oleh mereka, lantas mereka mempekerjakan para buruh tani, buruh perkebunan, dan buruh-buruh lainnya. Mereka mengambil keuntungan berlebih, mencicipi kenikmatan duniawi ketika para buruh bekerja menguras tenaga siang sampai malam. Alasan utama para tengkulak modern adalah: Kepemilikan Modal, ini sama klasiknya dengan angan-angan para borjuis di awal abad ke-20. Hubungan simbiosis –mutualisme antara para pemilik modal dengan para pekerja sebatas pada hubungan kerja dengan sistem gaji yang cukup kecil.
Timbul sebuah pertanyaan, kenapa Upah Minimun Regional di beberapa wilayah di Indonesia ini sangat kecil? Ini tidak sekedar dipengaruhi oleh belum berpihaknya pemerintah terhadap para pekerja, juga disebabkan oleh peran serta para tengkulak modern. Mereka lebih memilih bernegosiasi dengan para preman, mafia pajak, dan pemerintah daripada harus bernegosiasi dengan para buruh dan karyawan sebagai mesin penggerak perusahaan para tengkulak modern tersebut. Adanya bayaran dan biaya yang harus dikeluarkan untuk memberi makan induk semang dan anak angkatnya perusahaan akan membebankannya kepada para buruh dan karyawan. Jelas sekali, para buruh, masa depan para pekerja, telah dipenggal oleh para tengkulak modern tersebut demi satu alasan, negosiasi dan tawar menawar dengan entitas satelit yang bisa mengawal bisnis mereka.
Akibatnya jelas, para buruh, karena keterpaksaan, karena sulitnya lapangan pekerjaan, karena akar budaya dan sosial mereka memang telah dididik oleh pemerintah untuk menjadi pekerja akan nrimo apa pun kebijakan yang dikeluarkan oleh Negara dan perusahaan, meskipun hal itu malah mencelakakan sisi finasial para buruh. Tidak jauh berbeda dengan direnggutnya lahan-lahan panen belum musim para petani oleh para tengkulak pemuja sistem ijon!
Kehidupan bukan untuk dibanding-bandingkan, sebab ini akan memunculkan sebuah anggapan adanya ketidak adilan dalam hidup. Tapi, tentang ketidak adilan sosial ini merupakan fenomena keseharian kita. Satu contoh: para petani bekerja di sawah dalam balutan keringat, sengatan panas matahari, dan kotornya tanah pesawahan hanya menikmati sebagian kecil saja dari hasil jerih payahnya. Sementara , mereka, para tengkulak modern, orang-orang yang berada di surge kota, tanpa harus berjibaku dengan terik matahari, tanpa harus menanam satu biji pun padi menjadi penikmat terbesar dari nektar manis kehidupan ini. Tanpa merasa malu, bahwa nasi-nasi yang mereka konsumsi berasal dari jutaan liter keringat para petani!
Kenyataan inilah barangkali yang menjadi sebab, seorang anak petani sekali pun tidak akan pernah menginginkan dan memiliki cita-cita sebagai seorang petani. Bahkan, membayangkannya pun begitu menakutkan. Mereka, generasi setelah kita, akan lebih membayangkan menjadi para tengkulak modern serta manusia-manusia satelit yang mengelilingi para tengkulak modern sebab, mereka memiliki anggapan; kelejatan hidup harus dinikmati walau tidak sebutir padi pun kita tanam. Dan ini -dalam pandangan nafsu/keserakahan- merupakan keadilan dunia ketika nurani kita menilai, ini sangat tidak adil!!!
TUGAS SIAPA INI.....@@@@@LL TGN BANTU DONK..
Source:
DPP TGN Bekasi
Dengan kata lain, para tengkulak telah menjadi penikmat kelejatan dunia tanpa mereka harus menanam sebutir pun biji padi.
Apakah sejarah hanya terhenti di persimpangan feodalisme? Pergumulan antara para pemilik modal, pemilik tanah, dan para buruh tani. Dan hanya berlaku di era colonial? Sama sekali tidak. Waktu rupanya lebih kuat dari kehidupan manusia sendiri. Sistem ini terus digulirkan, hingga menyentuh ranah kehidupan manusia-manusia modern. Akar budaya dan sosial masyarakat agraris memang telah tercerabut sedikit demi sedikit dari kehidupan ini, namun bukan berarti sistem pertengkulakaan pun berbanding lurus, sama mengecilnya dengan budaya agraris tadi. Mereka telah menjelma menjadi para tengkulak modern. Menjadi tuan tanah-tuan tanah baru, feodalisme berwajah baru pun muncul.
Tengkulak modern adalah para raksasa kapitalis pemilik modal. Entah berapa ribu hektar tanah dimiliki oleh mereka, lantas mereka mempekerjakan para buruh tani, buruh perkebunan, dan buruh-buruh lainnya. Mereka mengambil keuntungan berlebih, mencicipi kenikmatan duniawi ketika para buruh bekerja menguras tenaga siang sampai malam. Alasan utama para tengkulak modern adalah: Kepemilikan Modal, ini sama klasiknya dengan angan-angan para borjuis di awal abad ke-20. Hubungan simbiosis –mutualisme antara para pemilik modal dengan para pekerja sebatas pada hubungan kerja dengan sistem gaji yang cukup kecil.
Timbul sebuah pertanyaan, kenapa Upah Minimun Regional di beberapa wilayah di Indonesia ini sangat kecil? Ini tidak sekedar dipengaruhi oleh belum berpihaknya pemerintah terhadap para pekerja, juga disebabkan oleh peran serta para tengkulak modern. Mereka lebih memilih bernegosiasi dengan para preman, mafia pajak, dan pemerintah daripada harus bernegosiasi dengan para buruh dan karyawan sebagai mesin penggerak perusahaan para tengkulak modern tersebut. Adanya bayaran dan biaya yang harus dikeluarkan untuk memberi makan induk semang dan anak angkatnya perusahaan akan membebankannya kepada para buruh dan karyawan. Jelas sekali, para buruh, masa depan para pekerja, telah dipenggal oleh para tengkulak modern tersebut demi satu alasan, negosiasi dan tawar menawar dengan entitas satelit yang bisa mengawal bisnis mereka.
Akibatnya jelas, para buruh, karena keterpaksaan, karena sulitnya lapangan pekerjaan, karena akar budaya dan sosial mereka memang telah dididik oleh pemerintah untuk menjadi pekerja akan nrimo apa pun kebijakan yang dikeluarkan oleh Negara dan perusahaan, meskipun hal itu malah mencelakakan sisi finasial para buruh. Tidak jauh berbeda dengan direnggutnya lahan-lahan panen belum musim para petani oleh para tengkulak pemuja sistem ijon!
Kehidupan bukan untuk dibanding-bandingkan, sebab ini akan memunculkan sebuah anggapan adanya ketidak adilan dalam hidup. Tapi, tentang ketidak adilan sosial ini merupakan fenomena keseharian kita. Satu contoh: para petani bekerja di sawah dalam balutan keringat, sengatan panas matahari, dan kotornya tanah pesawahan hanya menikmati sebagian kecil saja dari hasil jerih payahnya. Sementara , mereka, para tengkulak modern, orang-orang yang berada di surge kota, tanpa harus berjibaku dengan terik matahari, tanpa harus menanam satu biji pun padi menjadi penikmat terbesar dari nektar manis kehidupan ini. Tanpa merasa malu, bahwa nasi-nasi yang mereka konsumsi berasal dari jutaan liter keringat para petani!
Kenyataan inilah barangkali yang menjadi sebab, seorang anak petani sekali pun tidak akan pernah menginginkan dan memiliki cita-cita sebagai seorang petani. Bahkan, membayangkannya pun begitu menakutkan. Mereka, generasi setelah kita, akan lebih membayangkan menjadi para tengkulak modern serta manusia-manusia satelit yang mengelilingi para tengkulak modern sebab, mereka memiliki anggapan; kelejatan hidup harus dinikmati walau tidak sebutir padi pun kita tanam. Dan ini -dalam pandangan nafsu/keserakahan- merupakan keadilan dunia ketika nurani kita menilai, ini sangat tidak adil!!!
TUGAS SIAPA INI.....@@@@@LL TGN BANTU DONK..
Source:
DPP TGN Bekasi
Tuesday, July 17, 2012
Resep Rujak Hiris
RESEP RUJAK HIRIS MANTAP
Bahan-bahan:
a) Hiris ngora
b) Hiris rada kolot
Bumbu (sacukupna):
a) C
b) Bawang beureum
c) Cikur
d) Surawung
e) Sereh
g) Gula beureum
h) Pecin
i) Uyah
Cara Olah:
1) Hiris ngora langsung dikubit sekitar 1-2 cm, nu rada kolot mah dipesek heula, nu diarah sikina wungkul.
2) Siapkeun dulang leutik/cowét + halu/mutu.
3) Rendos dina dulang: cengek, uyah, cikur, bawang beureum (diiris kasar), surawung, sereh, tarasi (meunang meuleum).
4) Asupkeun hiris nu meunang ngubit + meunang mesek kana dulang, terus ditutu/direndos, digalokeun + bumbu tadi neupi ka leumu + dipecinan.
4) Disajikeun + sangu nu haneut kénéh.
SELAMAT MENCOBA!
Resep Rujak Hiris
RESEP RUJAK HIRIS MANTAP
Bahan-bahan:
a) Hiris ngora
b) Hiris rada kolot
Bumbu (sacukupna):
a) C
b) Bawang beureum
c) Cikur
d) Surawung
e) Sereh
g) Gula beureum
h) Pecin
i) Uyah
Cara Olah:
1) Hiris ngora langsung dikubit sekitar 1-2 cm, nu rada kolot mah dipesek heula, nu diarah sikina wungkul.
2) Siapkeun dulang leutik/cowét + halu/mutu.
3) Rendos dina dulang: cengek, uyah, cikur, bawang beureum (diiris kasar), surawung, sereh, tarasi (meunang meuleum).
4) Asupkeun hiris nu meunang ngubit + meunang mesek kana dulang, terus ditutu/direndos, digalokeun + bumbu tadi neupi ka leumu + dipecinan.
4) Disajikeun + sangu nu haneut kénéh.
SELAMAT MENCOBA!
Subscribe to:
Comments (Atom)