Para tengkulak tidak pernah menanam kebaikan
apa pun terhadap petani. Sistem ijon bukan transaksi alamiah dan wajar,
kecuali merupakan sistem perampasan hak sebuah kelompok oleh kelompok
yang memiliki kekuatan pasar, pengendali pasar, dan memiliki capital
yang cukup untuk menarik keuntungan dengan cara merampas masa depan para
petani. Praksis, realitas ini bertahan sejak roda-roda feodalisme,
pengambilan upeti, dilakukan oleh para pangreh praja di era
kolonialisme. Petani tidak bisa berbuat apa, mereka menanam padi di awal
musim, namun para tengkulak telah membeli masa depan bulir-bulir padi
mereka , pembeliannya lebih murah dari harga padi ketika diambil di
musim panen.
Dengan kata lain, para tengkulak telah menjadi
penikmat kelejatan dunia tanpa mereka harus menanam sebutir pun biji
padi.
Apakah sejarah hanya terhenti di persimpangan feodalisme?
Pergumulan antara para pemilik modal, pemilik tanah, dan para buruh
tani. Dan hanya berlaku di era colonial? Sama sekali tidak. Waktu
rupanya lebih kuat dari kehidupan manusia sendiri. Sistem ini terus
digulirkan, hingga menyentuh ranah kehidupan manusia-manusia modern.
Akar budaya dan sosial masyarakat agraris memang telah tercerabut
sedikit demi sedikit dari kehidupan ini, namun bukan berarti sistem
pertengkulakaan pun berbanding lurus, sama mengecilnya dengan budaya
agraris tadi. Mereka telah menjelma menjadi para tengkulak modern.
Menjadi tuan tanah-tuan tanah baru, feodalisme berwajah baru pun muncul.
Tengkulak modern adalah para raksasa kapitalis pemilik modal.
Entah berapa ribu hektar tanah dimiliki oleh mereka, lantas mereka
mempekerjakan para buruh tani, buruh perkebunan, dan buruh-buruh
lainnya. Mereka mengambil keuntungan berlebih, mencicipi kenikmatan
duniawi ketika para buruh bekerja menguras tenaga siang sampai malam.
Alasan utama para tengkulak modern adalah: Kepemilikan Modal, ini sama
klasiknya dengan angan-angan para borjuis di awal abad ke-20. Hubungan
simbiosis –mutualisme antara para pemilik modal dengan para pekerja
sebatas pada hubungan kerja dengan sistem gaji yang cukup kecil.
Timbul sebuah pertanyaan, kenapa Upah Minimun Regional di beberapa
wilayah di Indonesia ini sangat kecil? Ini tidak sekedar dipengaruhi
oleh belum berpihaknya pemerintah terhadap para pekerja, juga disebabkan
oleh peran serta para tengkulak modern. Mereka lebih memilih
bernegosiasi dengan para preman, mafia pajak, dan pemerintah daripada
harus bernegosiasi dengan para buruh dan karyawan sebagai mesin
penggerak perusahaan para tengkulak modern tersebut. Adanya bayaran dan
biaya yang harus dikeluarkan untuk memberi makan induk semang dan anak
angkatnya perusahaan akan membebankannya kepada para buruh dan karyawan.
Jelas sekali, para buruh, masa depan para pekerja, telah dipenggal oleh
para tengkulak modern tersebut demi satu alasan, negosiasi dan tawar
menawar dengan entitas satelit yang bisa mengawal bisnis mereka.
Akibatnya jelas, para buruh, karena keterpaksaan, karena sulitnya
lapangan pekerjaan, karena akar budaya dan sosial mereka memang telah
dididik oleh pemerintah untuk menjadi pekerja akan nrimo apa pun
kebijakan yang dikeluarkan oleh Negara dan perusahaan, meskipun hal itu
malah mencelakakan sisi finasial para buruh. Tidak jauh berbeda dengan
direnggutnya lahan-lahan panen belum musim para petani oleh para
tengkulak pemuja sistem ijon!
Kehidupan bukan untuk
dibanding-bandingkan, sebab ini akan memunculkan sebuah anggapan adanya
ketidak adilan dalam hidup. Tapi, tentang ketidak adilan sosial ini
merupakan fenomena keseharian kita. Satu contoh: para petani bekerja di
sawah dalam balutan keringat, sengatan panas matahari, dan kotornya
tanah pesawahan hanya menikmati sebagian kecil saja dari hasil jerih
payahnya. Sementara , mereka, para tengkulak modern, orang-orang yang
berada di surge kota, tanpa harus berjibaku dengan terik matahari, tanpa
harus menanam satu biji pun padi menjadi penikmat terbesar dari nektar
manis kehidupan ini. Tanpa merasa malu, bahwa nasi-nasi yang mereka
konsumsi berasal dari jutaan liter keringat para petani!
Kenyataan inilah barangkali yang menjadi sebab, seorang anak petani
sekali pun tidak akan pernah menginginkan dan memiliki cita-cita sebagai
seorang petani. Bahkan, membayangkannya pun begitu menakutkan. Mereka,
generasi setelah kita, akan lebih membayangkan menjadi para tengkulak
modern serta manusia-manusia satelit yang mengelilingi para tengkulak
modern sebab, mereka memiliki anggapan; kelejatan hidup harus dinikmati
walau tidak sebutir padi pun kita tanam. Dan ini -dalam pandangan
nafsu/keserakahan- merupakan keadilan dunia ketika nurani kita menilai,
ini sangat tidak adil!!!
TUGAS SIAPA INI.....@@@@@LL TGN BANTU
DONK..
Source:
DPP TGN Bekasi
No comments:
Post a Comment