Wednesday, July 18, 2012

Tengkulak

Para tengkulak tidak pernah menanam kebaikan apa pun terhadap petani. Sistem ijon bukan transaksi alamiah dan wajar, kecuali merupakan sistem perampasan hak sebuah kelompok oleh kelompok yang memiliki kekuatan pasar, pengendali pasar, dan memiliki capital yang cukup untuk menarik keuntungan dengan cara merampas masa depan para petani. Praksis, realitas ini bertahan sejak roda-roda feodalisme, pengambilan upeti, dilakukan oleh para pangreh praja di era kolonialisme. Petani tidak bisa berbuat apa, mereka menanam padi di awal musim, namun para tengkulak telah membeli masa depan bulir-bulir padi mereka , pembeliannya lebih murah dari harga padi ketika diambil di musim panen.

Dengan kata lain, para tengkulak telah menjadi penikmat kelejatan dunia tanpa mereka harus menanam sebutir pun biji padi.

Apakah sejarah hanya terhenti di persimpangan feodalisme? Pergumulan antara para pemilik modal, pemilik tanah, dan para buruh tani. Dan hanya berlaku di era colonial? Sama sekali tidak. Waktu rupanya lebih kuat dari kehidupan manusia sendiri. Sistem ini terus digulirkan, hingga menyentuh ranah kehidupan manusia-manusia modern. Akar budaya dan sosial masyarakat agraris memang telah tercerabut sedikit demi sedikit dari kehidupan ini, namun bukan berarti sistem pertengkulakaan pun berbanding lurus, sama mengecilnya dengan budaya agraris tadi. Mereka telah menjelma menjadi para tengkulak modern. Menjadi tuan tanah-tuan tanah baru, feodalisme berwajah baru pun muncul.

Tengkulak modern adalah para raksasa kapitalis pemilik modal. Entah berapa ribu hektar tanah dimiliki oleh mereka, lantas mereka mempekerjakan para buruh tani, buruh perkebunan, dan buruh-buruh lainnya. Mereka mengambil keuntungan berlebih, mencicipi kenikmatan duniawi ketika para buruh bekerja menguras tenaga siang sampai malam. Alasan utama para tengkulak modern adalah: Kepemilikan Modal, ini sama klasiknya dengan angan-angan para borjuis di awal abad ke-20. Hubungan simbiosis –mutualisme antara para pemilik modal dengan para pekerja sebatas pada hubungan kerja dengan sistem gaji yang cukup kecil.

Timbul sebuah pertanyaan, kenapa Upah Minimun Regional di beberapa wilayah di Indonesia ini sangat kecil? Ini tidak sekedar dipengaruhi oleh belum berpihaknya pemerintah terhadap para pekerja, juga disebabkan oleh peran serta para tengkulak modern. Mereka lebih memilih bernegosiasi dengan para preman, mafia pajak, dan pemerintah daripada harus bernegosiasi dengan para buruh dan karyawan sebagai mesin penggerak perusahaan para tengkulak modern tersebut. Adanya bayaran dan biaya yang harus dikeluarkan untuk memberi makan induk semang dan anak angkatnya perusahaan akan membebankannya kepada para buruh dan karyawan. Jelas sekali, para buruh, masa depan para pekerja, telah dipenggal oleh para tengkulak modern tersebut demi satu alasan, negosiasi dan tawar menawar dengan entitas satelit yang bisa mengawal bisnis mereka.

Akibatnya jelas, para buruh, karena keterpaksaan, karena sulitnya lapangan pekerjaan, karena akar budaya dan sosial mereka memang telah dididik oleh pemerintah untuk menjadi pekerja akan nrimo apa pun kebijakan yang dikeluarkan oleh Negara dan perusahaan, meskipun hal itu malah mencelakakan sisi finasial para buruh. Tidak jauh berbeda dengan direnggutnya lahan-lahan panen belum musim para petani oleh para tengkulak pemuja sistem ijon!

Kehidupan bukan untuk dibanding-bandingkan, sebab ini akan memunculkan sebuah anggapan adanya ketidak adilan dalam hidup. Tapi, tentang ketidak adilan sosial ini merupakan fenomena keseharian kita. Satu contoh: para petani bekerja di sawah dalam balutan keringat, sengatan panas matahari, dan kotornya tanah pesawahan hanya menikmati sebagian kecil saja dari hasil jerih payahnya. Sementara , mereka, para tengkulak modern, orang-orang yang berada di surge kota, tanpa harus berjibaku dengan terik matahari, tanpa harus menanam satu biji pun padi menjadi penikmat terbesar dari nektar manis kehidupan ini. Tanpa merasa malu, bahwa nasi-nasi yang mereka konsumsi berasal dari jutaan liter keringat para petani!

Kenyataan inilah barangkali yang menjadi sebab, seorang anak petani sekali pun tidak akan pernah menginginkan dan memiliki cita-cita sebagai seorang petani. Bahkan, membayangkannya pun begitu menakutkan. Mereka, generasi setelah kita, akan lebih membayangkan menjadi para tengkulak modern serta manusia-manusia satelit yang mengelilingi para tengkulak modern sebab, mereka memiliki anggapan; kelejatan hidup harus dinikmati walau tidak sebutir padi pun kita tanam. Dan ini -dalam pandangan nafsu/keserakahan- merupakan keadilan dunia ketika nurani kita menilai, ini sangat tidak adil!!!
TUGAS SIAPA INI.....@@@@@LL TGN BANTU DONK..


Source:
DPP TGN Bekasi

No comments:

Post a Comment